Hidup adalah pilihan…

Pernahkah anda mengalami sesuatu yg membuat hidup anda bingung, dilema?

Bingung karena banyaknya pilihan dalam hidup yg mengharuskan kita membuat sebuah keputusan, dilema karena berbagai masalah yang terus mendera, di lain pihak membuat orang lain bahagia, tapi malah merugikan diri kita sendiri, atau sebaliknya. Tapi hidup adalah sebuah pilihan, sesulit apapun itu harus kita hadapi.

Di saat orang lain menilai hidup seseorang terlihat sangat layak, mungkin menimbulkan suatu reaksi sedikit iri koq hidupnya enak sih. Tapi apakah kita tahu bahwa kondisinya membuat hidupnya tersiksa. Pertanyaannya, apakah materi akan selalu membuat kita bahagia? Jawabannya adalah tidak selalu.

Satu cerita seorang temanku yang sekarang sedang mengalami dilema, dimana dia tidak pernah membayangkan bahwa dia harus memilih mempertaruhkan karirnya di sebuah perusahaan demi mengambil kembali babynya ke dalam pelukannya yg sekarang dalam pengasuhan sang mertua nun jauh di

Image

luar jakarta sana. Dari ceritanya sebetulnya dia terlihat enak, ga perlu kerja keras utk membiayai semua kebutuhan babynya; susu, diapers, baju2, mainan juga ongkos babysitter krn smua sudah ditanggung sang mertua.

Tapi apakah dia bahagia dengan kondisi itu? bahagiakah dia krn semua kebutuhan terpenuhi mertua sementara dia jauh dari si baby? Wanita manapun tidak akan rela dengan kondisi spt itu. Mau ga mau pilihan sulit itupun harus diputuskan.

Mungkin banyak contoh lain dalam hidup yg harus kita pilih karena bagaimanapun setiap pilihan itu adalah yg terbaik utk masa depan, karena dibalik semua itu ada hikmah yg harus kita petik, dibalik itu semua karena Tuhan sedang menciptakan skenario hidup kita ke depannya dan kita tidak akan pernah tahu.

 

Dan hanya kepadaNyalah tempat kita mengadu dengan semua masalah dan kebimbangan kita, insya Allah Dia akan selalu memberikan sebuah pilihan yg terbaik utk kita.

Wallahu’alam bishowaabb…

Sebuah Prestasi

Aku masih terus mengingat ungkapan seorang teman saat aku dan suami bercerita dan berkeluh kesah tentang kondisi kami sekarang. “Rejeki yang Allah berikan kpd ummatNya bukan cuma dari materi, lihatlah betapa Allah Maha baik telah memberi kalian anak2 yg sehat, ganteng dan pintar”. Yaah…quote itu yg suka lupa untuk diucapkan sebagai ungkapan dari rasa bersyukur kita. Masya Allah… walau saat itu salah seorang teman itupun dalam kondisi keuangan yg sama, dan dia sudah lbh dr 7 thn menikah tapi belum dikarunia seorang anakpun. Apa yg diucapkannya sedikit menampar kulit pipiku, terasa menyisakan bekas tamparan itu sampai sekarang.  Aaahhh…maafkan aku ya Rabb…

Yaah…yg mungkin tidak aku rasakan adalah “bentuk”dari sebuah rejeki dan nikmat yg Allah telah berikan kepadaku selama ini. Sehat….betapa berharganya arti kesehatan itu buat kami, dan yg pasti utk semua orang di muka bumi ini, melebihi rejeki apapun. Buah hati (anak2)…. yang bagi sebagian orang sulit mendapatkannya. Sebuah prestasi…. mungkin aku orang yg terlalu berbangga hati krn alhamdulillah bisa menciptakan anak yg berprestasi dalam bidang tertentu.

Alhamdulillah, meskipun aku bukan seorang Full Time Mommy yang senantiasa ada dan mendampingi mereka (anak2) setiap saat, yang bisa menemani mrk saat mrk melakukan sebuah perjalanan pada acara sekolahnya. Tapi aku bersyukur….dibalik kondisi (yang kurang menurut mrk), mereka bisa mengisi kekurangan itu dengan kelebihan2 yg mereka miliki. Yaaahhh…Itu mungkin sebuah bakat yg sudah ada sejak lahir, walau ada pengaruh dengan faktor keturunan yang mungkin hanya sebuah nilai tambah.

Dan saat aku sibuk dengan tumpukkan kertas di kantor dan konsentrasi dgn permasalahan di kantor, saat itupun aku tersadar bahwa waktunya si kakak pulang sekolah, memikirkan siapa yg akan menjemputnya. Saat telp guru pembimbing di sekolah (krn kaget jam pulang sudah lewat 1/2 jam – OMG, panik menyelimuti). Tapi ternyata si kakak tengah asyik dengan kertas menggambarnya. Yaaah…dia masih sibuk latihan mewarnai utk persiapan lomba mewarnai sabtu ini. Aahh…lega hatiku, haru campur bangga *berkaca-kaca*. Haru…karena aku harus menerima kenyataan bahwa saat anakku terpilih lagi dan lagi utk mengikuti sebuah lomba dari sekolahnya, aku berada jauh dari dia, tidak langsung memberi support, memuji dan memeluk erat dia dari dekat. Bangga…karena aku memiliki seorang anak yg alhamdulillah punya talenta di bidang seni itu.

Yaaah…sebuah prestasi bukan cuma di dapat dari pendidikan, Prestasi bukan cuma diperoleh dari mata pelajaran sekolah. Banyak bidang yg bisa dijadikan sebuah prestasi. Setiap anak punya keunikan, kelebihan dan kemampuan yang berbeda2. Dan saat ini yang aku lihat Andal lebih keliatan prestasinya di bidang seni, yang sudah aku temukan sejak dia berumur 2.5 thn. Prestasi lain mungkin olahraga (futsal), tapi bidang itu blm bnyak prestasi yg dia capai dlm bentuk penghargaan atau piala.

Hhhhmmm…terus terang aku bukan mommy spt kebanyakan org, yg punya sebuah komitmen ketat dalam mendidik anak2nya. Aku mommy yg ga trlalu saklek, membiarkan mrk seperti apa mrk adanya layaknya anak seumuran mrk, ga punya sebuah aturan ketat utk mrk patuhi. Aku hanya ingin menjadi mommy yg sederhana dalam mendidik, mengalir seperti air mengikuti keadaan mereka, mengasuh dan mengajarkan seperti apa seharusnya mereka, seperti apa mereka menjalani hidup ini dengan artian mereka tentu harus tahu apa kewajibannya dan apa haknya sebagai seorang anak.

Jadi…..Nikmat mana lagi yg harus aku dustai?

Working mom…HouseWife, it’s me.

Banyak wanita merangkap jabatan dalam hidupnya, berkarir plus ibu rumah tangga. Kodratnya wanita adalah menjadi makmum utk imam keluarga (suami), pengasuh anak2, pengatur keuangan keluarga dan pelayan untuk suami. Tapi wanita sekarang lebih modern, banyak yg meniti karir sejak usia muda, sejak lulus dari sebuah universitas. Jadi walaupun sudah menikah dan memiliki anak, berkarir ttp menjadi prioritas. Bukan semata karena ingin lebih mapan secara materi, tapi juga berkarir.

Lalu apakah aku bekerja sampe sekarang cuma utk meniti karir? Awalnya mungkin iyaaa…selain masalah ekonomi, aku ingin punya uang sendiri, ingin bisa memiliki apa yg aku inginkan, ingin bisa membagi lebih yg aku punya utk orang tua juga adik2ku. Tapi sekarang karir bukan prioritas untukku, aku bekerja hanya utk membantu suami utk bisa memenuhi kebutuhan keluarga yg semakin hari semakin besar terasa.

Semakin hari aku rasakan dilema itu semakin besar. Rasa jenuh dan males bekerjapun sudah berada di puncak. Mungkin lebih karena sudah terlalu lama berkarir di tempat ini. Aaaahhhh…ingin rasanya aku resign, ingin rasanya selalu bisa menghabiskan setiap waktu bersama si kecil, merapihkan rumah, membereskan semua pekerjaan rumah dgn waktu yg santai, tidak tergesa-gesa seperti yang saat ini aku lakukan.

Yaah….semua aku kerjakan. Aku merasa lelah dgn rutinitas ini. Bangun setelah adzan subuh berkumandang (kadang lbh sering telat bangun dan telat sholat subuh), cuci piring, masak utk sarapan keluarga (plus bekal sekolah si kakak), merapihkan diri utk berangkat ke kantor, drop anak2 ke rumah nyokap krn sampe skrg kita ga pake jasa pembantu/baby sitter. Berangkat kantor nyetir sendiri. Pulang kantor masih harus jemput anak2 di rumah nyokap, klo lg mood ya numpang makan malam dulu di rumah nyokap. Klo lg ga mood ya langsung pulang dan masak sendiri utk makan malam. Pulang ke kontrakan masih harus mengerjakan pekerjaan rumah yg masih tertunda. Kadang masih ada baju2 yg utk dipakai besok belum digosok, harus gosok dulu, atau klo baju2 jemuran blm sempat diangkat ya msti angkat baju dan merapihkannya ke dlm keranjang, atau terkadang harus menjemur baju yg tadi pagi dicuci tp blm sempat dijemur, lalu mengajarkan Andal belajar terutama membaca atau terkadang membacakan buku cerita untuk Adil. Aaarrgggh….rutinitas yg begitu padat, berasa cape tapi tetap harus iklas menjalaninya krn memang seperti itulah jalan hidupku saat ini. Sebenarnya ada suami yg juga membantu mengerjakan salah satu dari itu semua, walau kdg aku suka ga sreg dgn apa yg sudah dia kerjakan dan aku harus mengulangnya. Tau sendiri kerjaan laki2 tdk serapih kita sbg wanita dan aku tipikal org yg agak perfect, maunya rapih. Tapi untuk saat ini apapun bantuan yg diberikan akan aku terima dgn iklas

Kadang suka mengeluh, walaupun itu hal yg wajar. Mengeluh akan kondisi, mengeluh cape tapi Allah maha tahu dan maha melihat apapun yg dilakukan hambaNya krn Allah sangat tidak menyukai hambaNya yg suka mengeluh, sebaliknya Allah akan terus menambahkan nikmat dan rejeki utk hamba2Nya yg selalu bersyukur. Yaah….apapun itu harus selalu disyukuri.

Insya Allah akan ada kemudahan setelah kesulitan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.